Melihat Sekelililing Panggung – Bayangan Sukses!

image

Ada satu kebiasaan unik yang seringkali saya lakukan sebelum mengisi sebuah forum, seminar, training, dan sejenisnya. Kebiasaan itu berupa duduk diam sejenak di berbagai tempat atau posisi duduk di bangku peserta. Ketika duduk, kemudian saya melihat ke depan dan membayangkan gambaran ketika diri saya sedang mengisi acara seminar atau training tersebut. Saya mencoba merasakan dan memposisikan diri sebagai seorang peserta yang merasakan bagaimana kondisinya ketika ‘diri saya sendiri’ sedang mengisi acara atau training tersebut.

Unik? Atau mungkin aneh?

Boleh dikata seperti itu, namun dalam public speaking, aktivitas seperti ini sangat membantu untuk memaksimalkan performance diri di atas panggung. Percaya ataupun tidak? -tapi mending percaya saja ya :-)-

Seperti apa cara aktivitas ini bisa membantu kita? Mari kita bahas sebentar.

Sebenarnya, aktivitas ini secara lebih jelas, ianya sangat membantu kita untuk menghadapi rasa gugup yang seringkali hadir ketika kita akan tampil di sebuah forum, walau memang tidak secara langsung.

Untuk menghadapi satu perasaan gugup, kita perlu punya satu kekuatan yang mampu memberikan kita kepercayaan diri bahwa kita akan berhasil. Karena itulah, sangat penting bagi kita untuk menekankan dan meyakinkan pada diri bahwa di forum yang nanti akan kita isi, Insya Allah kita bisa berhasil. Perlu dipahami dan diingat, bagaimana mungkin kita bisa meyakinkan orang lain jika kita sendiri pun tak yakin dengan diri kita sendiri! Betul? Betuuuuul…..!!!

Karena itulah, dengan membayangkan bahwa anda akan sukses di depan para audiens, maka pada dasarnya anda sudah memberikan suntikan rasa percaya diri yang sangat besar pada diri anda. Kekuatan ini akan membantu anda untuk melewati hari esok dengan lebih baik, prima, serta percaya diri. Ingat, kita bukanlah sedang berbicara hasil, tapi kita berbicara tentang bagaimana menyiapkan segala macam usaha, proses yang maksimal hingga mampu mendapatkan kesuksesan tersebut. Hasil tentu akan mengikuti proses, maka yakinlah jika proses dilakukan sedemikian rupa dengan maksimal, maka Insya Allah hasilnya pun akan sama maksimalnya.

Dengan berada di bangku audiens, kemudian membayangkan diri sendiri sedang menyampaikan materi dengan sangat luar biasa memukau, maka besok tentu bayangan itu akan menjadi kenyataan. Insya Allah..

Believe me, it works :-)

Semoga berkah dan bermanfaat

BTPS #3 in Action : Sabtu-Minggu, 23-24 Nov 2013 @ Hotel Biuti Banjarmasin

“Mari kita berbicara tentang bagaimana meningkatkan skill berbicara, memang sulit dan perlu waktu yang lama tapi bukan berarti tidak mungkin!”

Alhamdulillah, semoga Allah senantiasa memberikan karunianya, memberkahi tiap aktivitas, dan mempermudah segala macam kegiatan yang menuju kepada ridhaNya.

Saya pribadi memiliki sebuah impian, bahwa saya ingin menginspirasi orang banyak agar mampu menyampaikan pemikiran baiknya atau produknya dengan cara yang baik, unik, dan berkesan, khususnya bagi saudara saya seaqidah, umat Islam yang ada. Karena itulah, saya memilih untuk menjadi seorang trainer, salah satunya Trainer Public Speaking, karena memang bagi saya aktivitas inilah yang saya yakin bisa mewujudkan mimpi saya, sekaligus menjadi Passion saya.

Karena itulah saya bermimpi bisa membangun akademi trainer saya sendiri yang Insya Allah saya sudah temukan namanya yakni RPM – Rumah Pembicara Muslim. Saya pun bermimpi agar bisa menuju ke sana, saya harus bisa memberikan inspirasi di 33 provinsi utama yang ada di Indonesia, dan setelahnya saya targetkan akan bisa menginjakkan kaki di dunia internasional. Dan semuanya saya mulai dari daerah asal saya, yakni Banjarmasin – Kalimantan Selatan.

Maka jadilah saya membangun berbagai macam pendukung untuk menuju dan merealisasikan mimpi saya, menginspirasi banyak orang dan berbagi pada banyak orang.

Hadirlah sebuah event pelatihan Public Speaking yang saya dan tim beri nama BTPS – Best Training Public Speaking and Presentations.

Sebuah pelatihan yang akan berbagi kepada anda tentang bagaimana cara efektif dan unik untuk berkomunikasi dengan orang lain, serta menemukan satu teknik bahwa anda bisa meyakinkan orang lain dengan cara berkomunikasi anda.
Alhamdulillah acara ini telah berlangsung beberapa kali, dan kemarin baru saja saya dan tim selesai melaksanakan training public speaking BTPS yang ke-3 di Kota Banjarmasin.

Ingin tahu seperti apa seru dan asyiknya BTPS #3 @ Banjarmasin. Sabtu-Minggu, 23-24 November 2013? Ini dia ceritanya….

Continue reading

Jatuh Itu Menyenangkan!

image

Mari kita membahas hidup sebagai sebuah perjuangan, jalan yang tak mudah, sulit dan rumit. Namun, mari senantiasa mengingat jika sesuatu yang sulit bukan berarti tidak mungkin! Betul? :-)

Jika kita berbicara tentang skill public speaking, maka ia pada dasarnya bukan lah bakat yang kemudian hadir begitu saja dalam diri manusia. Sama seperti halnya skill-skill yang lain, skill public speaking adalah sebuah skill yang dibangun dari awal, dari angka 0. Yang berbeda di antara kita nantinya adalah seberapa cepat dan jauhnya perkembangan kita.

Yang namanya proses membangun skill, ia memang tidak semudah yang dibayangkan, namun juga tak sesulit yang ditakutkan. Dan satu hal yang pasti, bahwa dalam proses membangun sebuah skill atau keahlian, senantiasa kita akan dibayang-bayangi dengan kondisi jatuh, gagal. Yap, hidup itu dihiasi dengan sesuatu yang bernama gagal dan berhasil, jatuh dan bangkit.

Jika anda memulai sebuah proses untuk menguasai suatu keahlian, atau mungkin suatu aktivitas menuju sukses yang anda harapkan, maka bersiaplah untuk jatuh dan gagal. Jika anda belum siap, maka jangan memulai! Walau bagaimanapun, siap atau tidak, gagal dan jatuh selalu ada.

Continue reading

Anda Tidak Akan Gagal!

image

Bagaimana perasaan anda ketika anda menjadi audiens dari sebuah event seminar atau training dan sejenisnya, kemudian seorang pembicara untuk event tersebut naik ke atas panggung dan kemudian mulai memberikan materi di forum tersebut. Namun, paling awal ia menyampaikan bahwa, “Mohon maaf, pada hari ini saya kebetulan tidak menyiapkan materi seminar dengan baik dan penuh, ada beberapa bagian yang kurang. Jadi saya memohon maaf jika nanti banyak kurangnya!” Kira-kira bagaimanakah perasaan anda sebagai audiens pada saat itu?

Mungkin merasa tidak nyaman, kecewa, tidak suka? Mayoritas, para audiens mungkin akan merasa kecewa dan tidak bersemangat lagi. Betul?

Kok bisa? Jelas bisa dong, coba renungkan, anda datang jauh-jauh, membeli tiket yang bisa dikata mahal, menyisihkan waktu anda bersama keluarga dan sahabat, serta hal lainnya yang anda lakukan untuk bisa datang ke acara tersebut. Ketika anda sudah duduk di dalam ruangan tempat berlangsungnya event tersebut, bahkan anda duduk paling depan, datang paling awal, dengan pakaian dan penampilan yang luar biasa berharap mendapatkan materi yang sudah anda tunggu-tunggu, anda sangat antusias ketika sang pemateri telah naik ke atas panggung. Kemudian, sang pemateri pun mengatakan hal tadi, meminta maaf kepada anda bahwa bahan yang disiapkan belum maksimal, dan akan ada banyak kekurangan selama event tersebut berlangsung!

Tentu, anda kecewa, gusar, tidak senang, dan lain sebagainya! Betul?

Karena itulah, salah satu peraturan mendasar ketika anda memulai public speaking, presentasi, ataupun berbicara di depan umum adalah “Don’t Apologize!”

Why? Karena detik anda mengucap maaf kepada audiens bahwa anda belum siap secara maksimal untuk berbagi materi kepada mereka maka pada saat itulah anda telah -secara tidak langsung- menyuruh para audiens anda keluar dari ruangan tersebut. Untuk apa coba, mendengarkan sesuatu yang sudah pasti banyak kurangnya bahkan pembicaranya pun berkata demikian. Meminta maaf akan menggugurkan harapan audiens nan tinggi kepada anda!

Continue reading

Kesederhanaan dalam Berbicara Itu Disukai

image

Kesederhanaan? Ups, jangan diartikan maksudnya sederhana penampilan dan hidupnya ya. Tidak, kita saat ini membicarakan kesederhanaan dalam sudut pandang yang berbeda, sekaligus dalam ruang pembahasan yang berbeda. Kesederhanaan dalam berbicara? Seperti apakah maksudnya? Yuk mari mulai berbagi…

Jika anda hadir dalam sebuah forum, yang diisi oleh seorang profesor yang akan berbicara tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, kemudian sang profesor memulai forum tersebut dengan menceritakan tentang dirinya berikut dengan CV nya secara panjang dikali lebar dikali tinggi sama dengan volume -udah kayak hitung bangun aja- maksudnya dengan sangat jelas kepada anda dan para audiens yang lainnya. Bisa anda bayangkan, bagaimana perasaan anda saat itu? Senang? Menikmati? Atau justru bingung dan bosan? Apalagi mungkin beliau menambahkannya dengan tampilan slide yang full dengan listing prestasinya, jurnal-jurnalnya, dan lain-lain. Apakah yang akan terjadi dengan anda kira-kira? Bisa diramalkan mungkin anda sudah berpindah dunia alias tertidur, bukan begitu?

Kalaupun anda masih bisa bertahan dan memaksakan diri anda untuk tidak tertidur, maka kemudian sang profesor memulai presentasinya dengan menyampaikan berbagai macam data hasil penelitian, rumus-rumus, dari berbagai sumber yang bisa ia perlihatkan, hingga tak dipungkiri materi presentasinya penuh dengan banyak data yang tentu bisa ditebak bahwa tak semua peserta mengerti hal tersebut. Bagaimana perasaan anda dalam forum tersebut? Ingin tidur? Pergi? Atau mungkin ingin melempar sesuatu kepada pembicara -jika benar sebaiknya anda bersiap untuk berlari- :-)

Percaya ataupun tidak, terkadang secara pribadi kita seringkali ‘menyiksa’ audiens kita dengan tindakan persis seperti hal tadi. Menyiksa seperti apakah maksudnya? Menyiksa dengan cara memberikan audiens kita materi yang membuat mereka berat untuk memikirkannya, bahkan tidak mengerti. Hingga mereka merasa tak nyaman berada di forum kita atau berbicara dengan kita. Bukannya membuat audiens kita mengerti dengan apa yang kita sampaikan tapi justru menjadi tambah bingung. Tentu, hal ini bukanlah sesuatu yang kita inginkan bukan?

Lalu bagaimana caranya kita menghadapi hal ini?

Continue reading

Script itu Penting @ Public Speaking!

6a00d8341c652b53ef0153928d2550970b-800wi1. Masalah

Pernahkah anda merasa bingung akan apa yang ingin anda bicarakan ketika anda berada di depan audiens?

Mungkinkah anda pernah merasa bahwa apa yang anda sampaikan justru membuat audiens bingung bahkan diri anda sendiri?

Atau anda merasa bahwa apa yang anda sampaikan ketika berada di depan bukanlah poin-poin penting yang seharusnya anda sampaikan, justru bertele-tele dan sulit dimengerti?

Kebanyakan orang, ketika ia memulai aktivitas public speakingnya, seringkali melupakan salah satu aspek penting yang ada dalam aktivitas ini. Perlu dipahami, bahwa aktivitas public speaking adalah sebuah aktivitas yang berbeda dari aktivitas berbicara pada umumnya, ianya adalah aktivitas untuk menyampaikan informasi, namun dalam jumlah yang lebih besar daripada sekedar berbicara biasa.

Perlu diingat, bahwa aktivitas public speaking juga sama dengan berbicara biasa, yakni sebuah cara untuk menyampaikan informasi kepada orang lain melalui rangkaian kata-kata dan kalimat. Artinya perlu dipastikan, bahwa dari aktivitas public speaking tersebut, orang lain berhasil mendapatkan pesan-pesan informasi yang ingin kita sampaikan kepada mereka.

Masalahnya, ketika kita melakukan aktivitas public speaking untuk menyampaikan informasi kepada orang lain tersebut, justru orang lain seringkali tidak menangkap maksud dari apa yang ingin kita sampaikan. Banyak hal tentunya mengapa hal tersebut bisa terjadi, namun faktor yang akan kita bicarakan adalah kurangnya sistematika penyampaian serta berbelit-belitnya informasi yang ingin kita sampaikan.

 

2. Solusi

Tentu kita tak ingin jika apa yang kita sampaikan tidak dimengerti dan tak dapat ditangkap maksudnya oleh orang lain. Jika seperti itu maka tidak ada gunanya kita melakukan sebuah aktivitas public speaking, karena sekali lagi aktivitas ini adalah aktivitas untuk menyampaikan sebuah informasi, bukan ajang untuk membuat orang lain bingung dan kemudian membodohi orang tersebut.

Continue reading